Ibu Hj. Melani Leimena Suharli menghadiri acara Peringatan Hari Ulang Tahun ke 8 DPD RI di Gedung MPR / DPR Senayan.
Peringatan Hari Ulang Tahun ke-8 DPD RI dimeriahkan dengan pameran foto bertema "Kiprah Senator Indonesia" yang memotret berbagai kegiatan anggota DPD selama setahun terakhir.
"Rangkaian HUT ke 8 DPD RI ini dimeraihkan dengan pameran foto teman-teman Koordinatoriat Wartawan Parlemen berjudul Kiprah Senator Indonesia," kata Ketua DPD RI Irman Gusman saat membuka pameran foto di gedung Nusantara V Senayan Jakarta, Senin (1/10).
Pameran foto tersebut menjadi salah satu agenda dari serangkaian HUT ke-8 DPD RI. Hadir dalam pembukaan pameran foto tersebut antara lain Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua BPK Hadi Purnomo, Wakil Ketua MPR Melani Suharli, Lukman Hakim Syaifudin.
Selain itu juga dihadiri Ketua DPD Irman Gusman, Wakil Ketua DPD Ratu Hemas dan Laode Ida serta seluruh anggota DPD RI.
Sebelumnya dalam rapat paripurna khusus dalam rangka HUT ke-8 DPD RI Irman mengatakan saat ini masih terjadi berbagai ketidakadilan.
"Di bidang politik, pangkal ketidakadilan bermula dari ketidakselarasan antara watak negara dengan watak bangsa. Eksistensi kebangsaan Indonesia ditandai oleh keragaman sosiologis, demografis, geologis dan kultural cenderung dinafikan dan dilemahkan oleh penyelenggara negara yang sentralistik," kata Irman.
Lebih lanjut Irman menjelaskan fenomena politik ini menimbulkan ketidakpercayaan rakyat pada partai politik yang dinilai hanya melayani segelintir elit politik daripada kepentingan rakyat. Namun tambahnya parpol sebagai saluran demokrasi justru mengalami krisis kewibawaan.
"Untuk itu dalam HUT ke-8 ini kami mempertegas komitmen DPD RI sebagai lembaga perwakilan daerah untuk memperjuangkan kepentingan daerah demi kemakmuran Indonesia," kata Irman.
Sementara ketidakadilan ekonomi ditunjukkan antara lain dari indikasi tersingkirnya ekonomi rakyat sebagai akibat bukan saja longgarnya kebijakan impor yang berlindung di bawah payung kawasan perdagangan bebas. Akibatnya tambah Irman produk luar demikian membanjiri pasar Indonesia.
"Parahnya sebagian pengambil kebijakan dan para relasi terkait sungguh menikmati situasi dan luput berfikir dengan melandaskan prinsip-prinsip ekonomi berdasarkan Pancasila," kata Irman.